Rabu, 11 Maret 2009

Populasi dan Habitat Ikan Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854)

ABSTRACT
Study about tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854) or mahseer were conducted in Muller Mountain areas Central Kalimantan. The aims of study were to know status and structure of population, habitat types, and preferences. The methods are catch per unit of effort,visual, and experimental. The results were caught 29 tambra fish, consist of 4 males, 8 females, and 17 juvenile size; the population is rare;
the habitat type were grouped to three groups; this fish more prefer to deep waters, the water quality was suitable for living of tambra fish.© 2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Key words: tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854), population, habitat types, preferences, Muller Mountain.

PENDAHULUAN

Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854), merupakan
ikan konsumsi bernilai tinggi dengan tekstur daging yang
tebal dan lezat, sehingga banyak digemari masyarakat. Hal
ini diindikasikan oleh tingginya permintaan terhadap daging
ikan tambra dengan harga yang tinggi pula. Rachmatika
dan Haryono (1999) melaporkan bahwa harga ikan tambra
di Malaysia mencapai 80 ringgit/kg, bahkan menurut Kiat
(2004) dapat mencapai 300 ringgit/kg. Di Kalimantan, yang
menjadi habitat utamanya, harga ikan tambra sekitar Rp.
50.000/kg, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga
jenis ikan lain yang hanya sekitar Rp. 15.000/kg (Haryono,
2005a). Jenis ikan ini sangat dikenal sebagai ikan konsumsi
dan untuk olahraga memancing (Desai, 2003).
Populasi ikan tambra di alam sudah jarang, bahkan
dikhawatirkan telah mendekati kepunahan. Di sisi lain,
eksploitasinya terus berlangsung secara besar-besaran dan
belum ada kegiatan budidaya. Data dasar biologi dan
ekologi ini juga belum banyak diketahui. Ikan tambra
termasuk jenis yang terancam punah akibat penggundulan
hutan dan penangkapan yang berlebihan (Kottelat et al.,
1993). Kelompok ikan tambra/mahseer merupakan
penghuni sungai pada hutan tropis terutama pada kawasan
pegunungan. Habitat asli ikan tambra umumnya pada
bagian hulu sungai di daerah perbukitan dengan air yang
jernih dan berarus kuat (Kiat, 2004, Haryono, 1994, 2005b;
Nontji, 1992). Ikan tambra bersifat pemakan segala atau
omnivora (Sulastri dkk., 1985, Haryono, 1992). Di habitat
aslinya, ikan tambra memakan tumbuhan dan hewan yang
terdapat di substrat/kerikil (Kiat, 2004), sedangkan pada
kondisi ex-situ Haryono dan Subagja (2007) melaporkan
bahwa ikan tambra memakan cacing dan pellet dengan baik.
Mengingat tingginya permintaan dan makin kritisnya
populasi ikan tambra di alam, maka diperlukan penelitian
yang mengarah pada upaya pemanfaatan secara
berkelanjutan, salah satunya mengenai kondisi populasi
dan habitatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
populasi ikan tambra dan habitatnya di perairan kawasan
Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah, serta preferensi
terhadap habitat buatan. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat mendukung keberhasilan proses konservasi ex-situ
melalui kegiatan domestikasi.

Oleh:
HARYONO1,♥, JOJO SUBAGJA2
1Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911.
2Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Bogor 16122.

Populasi dan Habitat Ikan Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854)


Populasi dan Habitat Ikan Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854)
di Perairan Kawasan Pegunungan Muller Kalimantan Tengah

The population and habitat of Tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854) in Muller
Mountain waters Central Kalimantan
HARYONO1,♥, JOJO SUBAGJA2

1Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911.
2Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Bogor 16122.
ABSTRACT
Study about tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854) or mahseer were conducted in Muller Mountain areas Central Kalimantan. The aims of study were to know status and structure of population, habitat types, and preferences. The methods are catch per unit of effort, visual, and experimental. The results were caught 29 tambra fish, consist of 4 males, 8 females, and 17 juvenile size; the population is rare; the habitat type were grouped to three groups; this fish more prefer to deep waters, the water quality was suitable for living of tambra fish.
© 2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854), population, habitat types, preferences, Muller Mountain.

PENDAHULUAN

Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854), merupakan ikan konsumsi bernilai tinggi dengan tekstur daging yang
tebal dan lezat, sehingga banyak digemari masyarakat. Hal
ini diindikasikan oleh tingginya permintaan terhadap daging
ikan tambra dengan harga yang tinggi pula. Rachmatika
dan Haryono (1999) melaporkan bahwa harga ikan tambra
di Malaysia mencapai 80 ringgit/kg, bahkan menurut Kiat
(2004) dapat mencapai 300 ringgit/kg. Di Kalimantan, yang
menjadi habitat utamanya, harga ikan tambra sekitar Rp.
50.000/kg, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga
jenis ikan lain yang hanya sekitar Rp. 15.000/kg (Haryono,
2005a). Jenis ikan ini sangat dikenal sebagai ikan konsumsi
dan untuk olahraga memancing (Desai, 2003).
Populasi ikan tambra di alam sudah jarang, bahkan
dikhawatirkan telah mendekati kepunahan. Di sisi lain,
eksploitasinya terus berlangsung secara besar-besaran dan
belum ada kegiatan budidaya. Data dasar biologi dan
ekologi ini juga belum banyak diketahui. Ikan tambra
termasuk jenis yang terancam punah akibat penggundulan
hutan dan penangkapan yang berlebihan (Kottelat et al.,
1993). Kelompok ikan tambra/mahseer merupakan
penghuni sungai pada hutan tropis terutama pada kawasan
pegunungan. Habitat asli ikan tambra umumnya pada
bagian hulu sungai di daerah perbukitan dengan air yang
jernih dan berarus kuat (Kiat, 2004, Haryono, 1994, 2005b;
Nontji, 1992). Ikan tambra bersifat pemakan segala atau
omnivora (Sulastri dkk., 1985, Haryono, 1992). Di habitat
aslinya, ikan tambra memakan tumbuhan dan hewan yang
terdapat di substrat/kerikil (Kiat, 2004), sedangkan pada
kondisi ex-situ Haryono dan Subagja (2007) melaporkan
bahwa ikan tambra memakan cacing dan pellet dengan baik.
Mengingat tingginya permintaan dan makin kritisnya
populasi ikan tambra di alam, maka diperlukan penelitian
yang mengarah pada upaya pemanfaatan secara
berkelanjutan, salah satunya mengenai kondisi populasi
dan habitatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
populasi ikan tambra dan habitatnya di perairan kawasan
Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah, serta preferensi
terhadap habitat buatan. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat mendukung keberhasilan proses konservasi ex-situ
melalui kegiatan domestikasi.



Alamat korespondensi:
Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Tel. & Fax.: +62-21-8765056 & 8765068
e-mail: ikharyono@yahoo.com

Selasa, 03 Maret 2009

Ikan Lokal berpotensi eksport (bag. 1)

Latar Belakang
Ikan garing atau ikan semah dengan nama ilmiah Tor douronensis adalah ikan lokal spesifik yang distribusinya di Sumatera Utara dan Barat, Jambi, Kerinci, dan ada juga di Lampung (terutama di danau Ranau), ikan ini biasa menghuni perairan sungai yang airnya mengalir dan jernih, dengan tipe dasar perairan berbatu.

Karena rasa daging yang enak dan banyak diminati oleh masyarakat tidak heran kalau harga ikan ini cukup mahal, bahkan di Negara tetangga kita (Malaysia) harga ikan ini bisa mencapai 150-200RM kira-kira 400 Rb Rupiah an. Suatu harga yang pantastis untuk ukuran ikan air tawar. Namun sayangnya ikan ini belum banyak yang membudidayakan, sementara untuk memenuhi permintaan hanya sebatas mengandalkan tangkapan dari habitat alam, dan itu pun sangat sulit untuk mendapatkan dalam jumlah yang banyak, kini keberadaan ikan tersebut sudah mengkhawatirkan, bahkan mendekati kepunahan untuk daerah-daerah tertentu. Namun kita harus merasa bangga bahwa masih ada daerah yang masih mau perduli untuk melestarikan jenis ikan ini, salah satu contoh yang baik adalah masyarkat Sumatera Barat, adalah kab.Padang Pariaman salah satu daerah yang sudah menerapkan konservasi ikan garing. Ikan garing disana berkembang biak serasi dengan konsisi alam dan terjaga dengan kebijakan daerah/ masyarakat yang masih memegang teguh aturan adat. Paling tidak sekitar 50 lubuk larangan yang dijadikan objek wisata dan sebagai daerah konservasi ikan semah/ ikan garing yang patut di contoh,.....