Senin, 23 September 2013

Untuk naskah asli tentang Tamboides silahkan lihat di jurnal biodiversitas 2008
UPAYA PELESTARIAN IKAN SEMAH (TOR DOURONENSIS), KOMODITAS POTENSIAL DAERAH, MELALUI PENGEMBANGAN BUDIDAYANYA 
Oleh: Jojo Subagja*, Anang Hari Kristanto dan H. M.Sulhi Email: mailto:subagja.j@gmail.com
Abstrak 
Ikan semah (Tor douronensis. Valencienes1842) merupakan komoditas potensial daerah Sumatra Barat, permintaan ikan semah untuk dikonsumsi cukup besar, akan tetapi budidaya nya terkendala oleh ketersediaan benih. Ikan semah oleh masyarakat Sumatera Barat dikonservasi pada “lubuk larangan” (bagian dari sungai) dimana masyarakat dilarang untuk menangkap pada zona inti . Upaya budidaya ikan semah memerlukan sediaan benih yang berkelanjutan. Dalam rangka penyediaan benih, dilakukan pemijahan ikan semah di Balai benih Aur Melintang, Sumatera Barat. Induk yang dipijahkan berjumlah 6 ekor, yang berhasil memijah 5 ekor, jumlah telur yang dihasilkan masing-masing 15, 25, 50,18.5, dan 19.3 gram, jumlah telur setiap gram 125 butir. Daya tetas telur 67 % serta kelangsungan hidup sampai umur 88 hari mencapai 81 %. Katakunci: ikan semah, Tor douronensis, domestikasi, pemijahan buatan 
Abstract 
Semah fish (Tor douronensis.Val. 1842) is a potential commodity areas of West Sumatra, semah fish for consumption demand is quite large, but its cultivation is constrained by the availability of seed. Fish semah by people kept in a "lubuklarangan" (part of the river) where people are forbidden to catch. Efforts semah fish farming requires preparation of a sustainable seed. In the framework of the provision of seeds, was done spawning in the Central Seed Production Aur Malintang, West Sumatra. Spawning parent amounted to 6 broad, 5 fish of successful spawning, the number of eggs produced 15, 25, 50, 18.5 and 19.3 grams respectively, number of eggs per 125 grams of grain. Egg hatchability 67% and survival up to age 88 days by 81%.  
Keywords: fish semah, Tor douronensis, domestication, artificial spawning
Berikut naskah hasil seminar pada acara Forum Inovasi Aeknologi Akuakultur di NTB th 2013
Assalammualaikum wr.wb.
Mohon maaf para blogger ikan garing yg saya hormati, atas keterlambatan  pengentri data/ info sehingga ada beberapa penaya belum bisa terkabulkan atas permintaannya.
mudah-mudahan dalam waktu dekat, blog  ini dapat memuat info-info tentang ikan kelah, masheer, garieng atau ikan Tor. 


Rabu, 07 November 2012

aktivitas di UPIS Anjongan

Unit resirkulasi bio filter sederhana untuk pemeliharaan benih ikan Tor soro atau ikan air tawar lainnya

Larvae ikan Tor soro 10 jam setelah menetas

Benih ikan Tor soro umur 2 bulan

Kolam Indukan Tor soro

Kolam Indukan Tor soro

Rabu, 11 Maret 2009

Populasi dan Habitat Ikan Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854)

ABSTRACT
Study about tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854) or mahseer were conducted in Muller Mountain areas Central Kalimantan. The aims of study were to know status and structure of population, habitat types, and preferences. The methods are catch per unit of effort,visual, and experimental. The results were caught 29 tambra fish, consist of 4 males, 8 females, and 17 juvenile size; the population is rare;
the habitat type were grouped to three groups; this fish more prefer to deep waters, the water quality was suitable for living of tambra fish.© 2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Key words: tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854), population, habitat types, preferences, Muller Mountain.

PENDAHULUAN

Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854), merupakan
ikan konsumsi bernilai tinggi dengan tekstur daging yang
tebal dan lezat, sehingga banyak digemari masyarakat. Hal
ini diindikasikan oleh tingginya permintaan terhadap daging
ikan tambra dengan harga yang tinggi pula. Rachmatika
dan Haryono (1999) melaporkan bahwa harga ikan tambra
di Malaysia mencapai 80 ringgit/kg, bahkan menurut Kiat
(2004) dapat mencapai 300 ringgit/kg. Di Kalimantan, yang
menjadi habitat utamanya, harga ikan tambra sekitar Rp.
50.000/kg, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga
jenis ikan lain yang hanya sekitar Rp. 15.000/kg (Haryono,
2005a). Jenis ikan ini sangat dikenal sebagai ikan konsumsi
dan untuk olahraga memancing (Desai, 2003).
Populasi ikan tambra di alam sudah jarang, bahkan
dikhawatirkan telah mendekati kepunahan. Di sisi lain,
eksploitasinya terus berlangsung secara besar-besaran dan
belum ada kegiatan budidaya. Data dasar biologi dan
ekologi ini juga belum banyak diketahui. Ikan tambra
termasuk jenis yang terancam punah akibat penggundulan
hutan dan penangkapan yang berlebihan (Kottelat et al.,
1993). Kelompok ikan tambra/mahseer merupakan
penghuni sungai pada hutan tropis terutama pada kawasan
pegunungan. Habitat asli ikan tambra umumnya pada
bagian hulu sungai di daerah perbukitan dengan air yang
jernih dan berarus kuat (Kiat, 2004, Haryono, 1994, 2005b;
Nontji, 1992). Ikan tambra bersifat pemakan segala atau
omnivora (Sulastri dkk., 1985, Haryono, 1992). Di habitat
aslinya, ikan tambra memakan tumbuhan dan hewan yang
terdapat di substrat/kerikil (Kiat, 2004), sedangkan pada
kondisi ex-situ Haryono dan Subagja (2007) melaporkan
bahwa ikan tambra memakan cacing dan pellet dengan baik.
Mengingat tingginya permintaan dan makin kritisnya
populasi ikan tambra di alam, maka diperlukan penelitian
yang mengarah pada upaya pemanfaatan secara
berkelanjutan, salah satunya mengenai kondisi populasi
dan habitatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
populasi ikan tambra dan habitatnya di perairan kawasan
Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah, serta preferensi
terhadap habitat buatan. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat mendukung keberhasilan proses konservasi ex-situ
melalui kegiatan domestikasi.

Oleh:
HARYONO1,♥, JOJO SUBAGJA2
1Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911.
2Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Bogor 16122.

Populasi dan Habitat Ikan Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854)


Populasi dan Habitat Ikan Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854)
di Perairan Kawasan Pegunungan Muller Kalimantan Tengah

The population and habitat of Tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854) in Muller
Mountain waters Central Kalimantan
HARYONO1,♥, JOJO SUBAGJA2

1Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor 16911.
2Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Bogor 16122.
ABSTRACT
Study about tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854) or mahseer were conducted in Muller Mountain areas Central Kalimantan. The aims of study were to know status and structure of population, habitat types, and preferences. The methods are catch per unit of effort, visual, and experimental. The results were caught 29 tambra fish, consist of 4 males, 8 females, and 17 juvenile size; the population is rare; the habitat type were grouped to three groups; this fish more prefer to deep waters, the water quality was suitable for living of tambra fish.
© 2008 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: tambra fish, Tor tambroides (Bleeker, 1854), population, habitat types, preferences, Muller Mountain.

PENDAHULUAN

Tambra, Tor tambroides (Bleeker, 1854), merupakan ikan konsumsi bernilai tinggi dengan tekstur daging yang
tebal dan lezat, sehingga banyak digemari masyarakat. Hal
ini diindikasikan oleh tingginya permintaan terhadap daging
ikan tambra dengan harga yang tinggi pula. Rachmatika
dan Haryono (1999) melaporkan bahwa harga ikan tambra
di Malaysia mencapai 80 ringgit/kg, bahkan menurut Kiat
(2004) dapat mencapai 300 ringgit/kg. Di Kalimantan, yang
menjadi habitat utamanya, harga ikan tambra sekitar Rp.
50.000/kg, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga
jenis ikan lain yang hanya sekitar Rp. 15.000/kg (Haryono,
2005a). Jenis ikan ini sangat dikenal sebagai ikan konsumsi
dan untuk olahraga memancing (Desai, 2003).
Populasi ikan tambra di alam sudah jarang, bahkan
dikhawatirkan telah mendekati kepunahan. Di sisi lain,
eksploitasinya terus berlangsung secara besar-besaran dan
belum ada kegiatan budidaya. Data dasar biologi dan
ekologi ini juga belum banyak diketahui. Ikan tambra
termasuk jenis yang terancam punah akibat penggundulan
hutan dan penangkapan yang berlebihan (Kottelat et al.,
1993). Kelompok ikan tambra/mahseer merupakan
penghuni sungai pada hutan tropis terutama pada kawasan
pegunungan. Habitat asli ikan tambra umumnya pada
bagian hulu sungai di daerah perbukitan dengan air yang
jernih dan berarus kuat (Kiat, 2004, Haryono, 1994, 2005b;
Nontji, 1992). Ikan tambra bersifat pemakan segala atau
omnivora (Sulastri dkk., 1985, Haryono, 1992). Di habitat
aslinya, ikan tambra memakan tumbuhan dan hewan yang
terdapat di substrat/kerikil (Kiat, 2004), sedangkan pada
kondisi ex-situ Haryono dan Subagja (2007) melaporkan
bahwa ikan tambra memakan cacing dan pellet dengan baik.
Mengingat tingginya permintaan dan makin kritisnya
populasi ikan tambra di alam, maka diperlukan penelitian
yang mengarah pada upaya pemanfaatan secara
berkelanjutan, salah satunya mengenai kondisi populasi
dan habitatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
populasi ikan tambra dan habitatnya di perairan kawasan
Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah, serta preferensi
terhadap habitat buatan. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat mendukung keberhasilan proses konservasi ex-situ
melalui kegiatan domestikasi.



Alamat korespondensi:
Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Tel. & Fax.: +62-21-8765056 & 8765068
e-mail: ikharyono@yahoo.com